Membangun Kedisiplinan pada Anak Usia Dini

Tags :
Date :14 April 2016

Pendidikan pada anak usia dini merupakan pondasi penting untuk perkembangan anak  di tingkat berikutnya. Salah satu karakter yang harus dibangun dan dibentuk pada anak usia dini yaitu kedisiplinan yang tidak lepas dengan tanggung jawab dan kemandirian. Lingkungan anak usia dini sangat berpengaruh pada perkembangan sosial maupun emosi, maka dari itu peran orang tua dan guru sangatlah penting dalam membangun kedisiplinan pada anak. 

Pendekatan terhadap anak.

Tips kali ini mengajak para orang tua sebagai sosok yang memiliki peranan penting dalam membangun kedisiplinan pada anak, terutama pada anak usia dini. Orang tua yang mampu menanamkan disiplin pada anak saat usia ini akan lebih mudah mendisiplinkan anak pada saat remaja nanti.  Tiga macam pendekatan yang dapat dilakukan dalam penanaman kedisiplinan yaitu :

1. Pendekatan Otoriter

Orang tua dianggap segala tahu apa yang terbaik bagi anaknya, yang menentukan masa depan anaknya. Tidak heran perilaku anak dibentuk oleh orang tuanya secara otoriter dalam artian anak tidak boleh menolak untuk apalagi menolak kehendak orang tua. Anak akan mendapat hukuman bila tidak mengikuti standar yang telah ditentukan orang tua dan guru. Sebaliknya jarang sekali anak dapat penghargaan bila berhasil menunjukkan perilaku yang baik dan sesuai dengan standar lingkungannya.

Dalam menerapkan keinginan orang tua dan guru terhadap anak, faktor usia anak kurang dipertimbangkan. Walaupun anak sudah beranjak besar, pengendalian ketat dan hukuman fisik / badan masih digunakan. Hal ini akan melumpuhkan inisiatif dan kesempatan anak dalam mengambil keputusan-keputusan tentang sesuatu yang dia anggap baik dan berguna bagi dirinya.

Anak yang dididik dengan cara penanaman disiplin otoriter akan cenderung mengembangkan kepribadian yang kurang positif. Dia cenderung untuk berbuat licik, tidak jujur, dan tertutup, pada gilirannya akan melawan / menentang orang tua, guru yang dia anggap tidak sesuai dengan kehendaknya. Akibat lain dari cara otoriter ini, anak akan menjadi rendah diri, tidak berani mengemukakan pendapat, malu bergaul dengan orang lain, merasa serba salah, bersikap “ submisit” ( tunduk pada orang lain ) serta cenderung menarik diri dari lingkungan sosial sekitarnya.

2. Pendekatan permisif

Disiplin permisif berarti sedikit disiplin atau tidak ada penanaman disiplin. Dengan cara pendekatan permisif, anak-anak tidak diberi batas-batas / rambu-rambu yang mengatur tingkah laku. Mereka tidak diberitahu oleh orang tua, guru, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh dilakukan. Pendekatan permisif ini kebalikan dari pendekatan otoriter. Kalau pendekatan otoriter orang tua dan gurulah yang mengendalikan segala perilaku anak, sedangkan pendekatan secara permisif anak-anak dibiarkan untuk berbuat dan berperilaku sekehendak hatinya, orang atau guru tidak mengarahkan anak kepada perilaku yang sesuai dengan standar perilaku yang berlaku dilingkungannya dan tidak menggunakan sanksi  hukuman terhadap prilaku yang tidak baik / salah. Akibatnya anak –anak menjadi bingung dan tidak tahu mana yang baik mana yang tidak baik, mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan. Selain bingung mereka akan meras cemas, tidak aman dan menjadi agresif. Walaupun mereka tidak tahu mana yang baik, mana yang salah, akibatnya mereka tidak dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan standar sosial di lingkungannya. Akibat lebih lanjut, anak-anak ini menjadi manja, penuntut, menjadi “ monster kecil ” dan banyak lagi julukan yang diberikan kepada mereka. Anak-anak sulit menyesuaikan diri, perilakunya tidak sesuai dengan usianya dan dia mengalami hambatan dalam pengembangan kepribadiannya. Perilaku sulit diterima oleh lingkungannya, karena tidak sesuai dengan standar yang berlaku di masyarakat. Anak-anak yang tumbuh besar permisif, cenderung menjadi anak yang ragu-ragu, cemas, kurang percaya diri, dan sulit mengendalikan diri. Demikian pula ia tidak tahan menghadapi kekerasan dan tantangan dalam hidupnya, selalu minta dukungan dan bantuan mental dari orang lain, mudah menyerah dan mudah putus asa.

3. Pendekatan Demokratis

Penanaman disiplin dengan cara pendekatan demokratis adalah suatu cara penanaman disiplin yang dianggap yang paling baik yang dapat menghasilkan sikap, perilaku dan kepribadian yang matang. Cara ini dapat dikatakan penggabungan dari penanaman disiplin cara otoriter dan permisif. Dengan penanaman disiplin secara demokratis, berarti anak diikutsertakan dalam diskusi, mendengarkan penjelasan, bertanya, mengemukakan pendapat tentang mengapa perilaku tertentu itu boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian anak-anak benar-benar mengerti dan memahami standar sosial yang berlaku dilingkungannya.

Terhadap anak yang besar, tidak saja penjelasan-penjelasan tentang aturan yang harus dipatuhi, tetapi mereka diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan bila diperlukan diajak bersama-sama merumuskan aturan main di rumah maupun di sekolah  untuk sama-sama diputuskan menjadi pedoman bersama. Dengan cara penanaman disiplin demokratis ini, anak merasa dihargai, diakui keberadaannya dan hal ini akan menumbuhkan kepercayaan pada dirinya dan dia tidak ragu – ragu mengambil keputusan dan menentukan sikap.

Mengajarkan anak tentang disiplin

Cara asuh yang benar adalah dengan melakukan pendekatan demokratis , yaitu dengan menetapkan batas-batas diskusi,  mencoba bernegosiasi, dan memberikan pemahaman.
Sebagai orang tua maupun guru juga harus tetap konsisten dengan aturan- aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama. Untuk mengajarkan disiplin, orang tua dapat memulai dengan cara melibatkan anak pada kegiatan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh orang tua. Misalnya membersihkan rumah, menyapu, mengepel, meskipun disesuaikan dengan kemampuan anak. Cara ini dinilai paling efektif.

Cara efektif mendisiplinkan anak antara lain;

  1. Lakukan pekerjaan rumah bersama, dimulai dengan tugas yang ringan. Jangan lupa untuk memberikan pengarahan dan konsekuensi pada setiap pekerjaan rumah yang dilakukan. Dengan cara ini, anak tidak hanya mengerti, tapi  aturan ini akan terus membekas pada kehidupan selanjutnya, dengan sendirinya kedisiplinan anak pun terbentuk.
    Tugas Anda adalah memantau secara konsisten. Hukuman harus tetap diberlakukan jika aturan tersebut dilanggar. Berikan juga penjelasan mengapa Anda harus menghukumnya.
  2. Mendefinisikan aturan juga hal yang penting. Contohnya, Anda ingin anak Anda membersihkan kamar mereka, Anda harus secara jelas menjelaskan apa itu arti bersih dan apa akibat jika mereka tidak menjaga kebersihan. Mungkin tampak sepele, tapi anak- anak membutuhkan alasan dan penjelasan detil pada setiap tugas yang harus dikerjakan.
  3. Untuk membentuk anak menjadi pribadi yang disiplin, orang tua harus bersatu dan menjalin kesepakatan dengan anak. Seperti, membahas masalah dan memutuskan aturan bersama sebelum menyampaikannya agar anak tidak bingung dengan aturan yang dibuat. Biasanya jika anak tidak mendapatkan kelonggaran dari sang ayah, ia akan beralih pada ibunya untuk mendapatkan dispensasi. Pada saat inilah baik orang tua harus bersehati dalam kesepakatan yang sudah dibuat dengan anak.

Contoh yang baik di depan anak. Bagaimana pun juga figur orang tua adalah contoh terdekat, mereka pun akan meniru perilaku Anda. Jadi, jangan ragu untuk membuat aturan-aturan tegas di rumah. (oleh : Setijowati, S.Pd)