MEMBENTUK ANAK MENJADI JUARA

Tags : psb,smp,semarang,terbaik,kristen,sekolah,yski
Date :27 Februari 2016

Siapa yang tidak ingin anaknya menjadi juara ? Apabila pertanyaan ini ditujukan kepada orang tua atau bahkan sekolah maka jawabannya adalah hampir sebagian besar mengatakan “ya, saya ingin anak saya menjadi juara”. Kemudian pertanyaannya adalah mengapa anak kita harus juara ? Bersaing atau berkompetisi adalah hal yang akan dihadapi oleh anak – anak kita di berbagai aspek kehidupan di kemudian hari. Apa yang dilakukan sekarang akan mempengaruhi/mewarnai kehidupan anak-anak kita dikemudian hari. Belajar berkompetisi (dengan cara yang sehat) dan memenangkan lomba akan mendorong anak untuk percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, juga akan membantu untuk menyadari bahwa mereka memiliki kelebihan dalam bidang tertentu. Hampir tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa memenangi sebuah kejuaraan/lomba justru akan membuat anak akan menjadi rendah diri. Melalui lomba/kejuaraan yang diikuti dan prestasi yang diraih maka kemampuan anak pun diasah agar menjadi lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Berikut ini ada beberapa cara yang perlu diperhatikan orang tua agar anak kita menjadi juara.

Pertama, benar – benar memahami dan mengerti kemampuan (bakat & minat) anak. Setiap anak itu lahir baik adanya. Tuhan melengkapi setiap anak dengan talenta yang begitu luar biasa, namun masalahnya orang tua seringkali tidak mengetahui bakat yang dikaruniakan kepada kita. Apa yang menurut orang tua baik itulah yang harus dilakukan oleh anak – anaknya, dan bahkan seringkali orang tua memaksakan keinginan/kehendaknya. Mungkin cara ini adakalanya berhasil, namun memberikan kesempatan anak untuk berkembang sesuai bakat dan minatnya adalah pilihan yang terbaik. Mengikutsertakan anak untuk psikotes (bakat & minat) akan sangat membantu orang tua untuk mengenal lebih detil kemampuan, bakat & minat anaknya.

Kedua, memiliki anak dengan kemampuan multitalenta mungkin merupakan harapan para orang tua. Tapi mungkinkah ? Hendaknya perlu disadari bahwa ada kemampuan-kemampuan yang tidak dapat dipelajari oleh seorang anak. Ada kemampuan khusus yang merupakan bakat bawaan yang perlu waktu lama untuk mempelajarinya (bagi yang kurang berbakat). Oleh sebab itu orang tua perlu fokus terhadap salah satu bakat untuk ditumbuh kembangkan melalui latihan – latihan yang terstruktur dan terjadwal. Sehingga hasilnya pasti lebih maksimal daripada memaksakan anak kita untuk menekuni semua bidang yang justru bukan merupakan bakat & minatnya.

Ketiga, konsisten terhadap jenis lomba. Sebaiknya kita mengikutkan anak kita untuk satu atau terbatas jenis lombanya. Hendaknya kita tidak kemaruk alias berburu kejuaraan dengan mengikutkan anak beragam jenis lomba. Jika gemar menekuni bidang seni, cobalah bidang seni digeluti secara sungguh-sungguh. Jika gemar menulis, cobalah kita menjaga konsistensi anak kita terhadap jenis lomba menulis atau mengarang atau yang lainnya.

 Keempat, membina komunikasi dengan anak itu penting. Hindarkan kesan bahwa orang tua hanya peduli pada prestasi yang diraih anak. Anak hanyalah alat untuk memuaskan ego orang tua, anak hanyalah sarana bagi orang tua untuk memperoleh pengakuan dan kebanggaan. Sebaiknya anak ditempatkan sebagai subyek bukan obyek. Menempatkan diri sebagai teman dan sahabat dikala mereka membutuhkan seseorang untuk memahami dirinya ditengah tekanan untuk berkompetisi dan harapan untuk meraih kemenangan adalah peran yang dapat dilakukan oleh orang tua. Perlu dibiasakan untuk menjadi “pendengar yang baik” bagi anaknya. Hindarkan kebiasaan “terlalu cerewet” dan mendominasi pembicaraan, ada baiknya kita duduk tenang dan diam pada saat mereka berbicara.

Kelima, menganalisis kelemahan atau kekurangan anak. Tentunya setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tak ada seorang pun memiliki kesempurnaan. Oleh karena itu, kita perlu menyadari kondisi tersebut. Berkenaan dengan aktivitas kejuaraan, tentunya anak kita akan kecewa jika gagal alias tidak menjadi juara. Langkah paling bijak adalah menganalisis kekurangan atau kelemahan. Cobalah kita berusaha mencari titik lemah kegagalan tersebut sehingga kita dapat menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran berharga bersama. Tak usah menyalahkan anak, kondisi tempat lomba, dewan juri/wasit lomba karena itu justru akan mengajarkan kepada anak sikap tidak sportif.

Keenam, dukungan moril dari sekolah & masyarakat itu penting. Hendaknya sekolah & masyarakat (sekitar) perlu dilibatkan dalam memberikan dukungan moril. Akan menjadi hal yang kontra produktif apabila keinginan untuk berprestasi dalam bidang tertentu justru bertentangan dengan kebijaksanaan sekolah (ulangan, kehadiran, dsb). Perlu ada upaya pendekatan dan komunikasi yang baik sehingga sekolah memberikan suport penuh pada saat anak melakukan persiapan – persiapan atau bahkan pada saat mengikuti kejuaraan (ulangan susulan & fasilitas mendapatkan pelajaran tambahan), sehingga pada saat bertanding anak kita tetap fokus terhadap pencapaian prestasi.

Ketujuh, sediakan fasilitas pendukung yang cukup memadai. Fasilitas tidak harus yang mahal, tetapi cukup dan memadai bagi anak untuk meraih prestasi. Kita dapat membayangkan bagaimana sulitnya menciptakan seorang juara pada saat fasilitas pendukung untuk latihan atau bahkan sarana untuk mengikuti lomba tidak tersedia.

Kedelapan, Latihan & kerja keras. Laihan, latihan dan latihan adalah salah satu cara untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada kemenangan yang dapat diraih tanpa latihan dan kerja keras.

Kesembilan, berikan reward. Berikan pujian (hadiah) kepada anak apabila meraih juara/memenangkan lomba. Pujian/penghargaan dapat memupuk rasa bangga, dihargai dan percaya diri bagi seorang anak. Dan dapat memotivasi anak untuk mempertahankan atau meningkatkan prestasinya. Apabila dimungkinkan cobalah untuk bekerjasama dengan sekolah agar anak kita pada saat meraih prestasi mendapat penghargaan dari sekolah pada saat upacara bendera/diumumkan melalui audio sentral. Hindarkan cercaan pada saat anak tidak dapat meraih juara dan gantikan dengan pemberian motivasi agar kedepan dapat berprestasi lebih baik lagi.