Membentuk Karakter SPECIAL di SD Kristen 3 YSKI

Tags :
Date :13 Oktober 2017

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat jam. Memasuki halaman depan SD Kristen 3 YSKI tampak sepi. Kata karyawan kebersihan yang sedang mengelap pintu kaca, anak-anak sedang mendengarkan renungan pagi yang disampaikan oleh salah satu guru. Dari celah korden di ruang kepala sekolah, tampak seorang guru berbicara di depan mikrofon, menyampaikan renungan pagi yang dilanjutkan dengan doa. Di kelas, anak-anak dengan seksama menyimak kalimat demi kalimat sang guru melalui speaker yang terpasang di setiap kelas. Sesaat memang sangat sunyi. Namun seketika suasana sepi pecah dengan ucapan bersemangat serentak,” Selamat pagi, Bu!”. Anak-anak memberikan salam kepada guru yang ada di kelas masing-masing. Aktivitas pembelajaran hari itu dimulai.

Aktivitas pembelajaran di SD Kristen 3 YSKI tidak semata-mata untuk membekali siswa dengan ilmu pengetahuan yang berguna untuk kehidupan mereka dan saat mereka melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Ada hal yang sangat penting untuk diberikan kepada siswa-siswi, yaitu pendidikan karakter. Sekarang pendidikan karakter mulai mendapatkan perhatian lembaga-lembaga pendidikan. Jika di tengah masyarakat umum nilai kejujuran, kemanusiaan, solidaritas dan keutamaan hidup lainnya mulai luntur, maka sekolah menjadi wahana belajar akan sistem nilai bagi semua anggota komunitas di dalamnya. Lembaga sekolah terbukti sejak lama berperan memberikan sumbangan pembangunan peradaban manusia dengan kehidupam sosial, politik, ekonomi dan budaya. Sekolah menjadi lembaga pembudayaan karakter. Maka sekolah-sekolah yang sekian lama mengabaikan pendidikan karakter, kembali menyadari kepentingannya. Selain itu muncul pula kesadaran bahwa karakter baik, sedikitnya dalam hal kemampuan verbal, interpersonal dan antar personal akan membuat seseorang berhasil hidupnya. Pendidikan karakter mampu meningkatkan motivasi berprestasi anak-murid. Penelitian juga menunjukkan bahwa karakter percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati dan kemampuan berkomunikasi berpengaruh 80% pada keberhasilan seseorang di masyarakat atau lebih besar di banding dengan kecerdasan otak yang hanya menyumbang 20% untuk keberhasilan seseorang. Mengutip perkataan Mahatma Gandhi, salah satu tujuh dosa fatal adalah pendidikan tanpa karakter. Theodore Roosevelt berkata bahwa mendidik seseorang pada aspek otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara bahaya pada masyarakat.

Gedung SD Kristen 3 YSKI terdiri dari bangunan tiga lantai berbentuk segi empat, di bagian tengah lantai bawah terdapat lapangan olahraga. Pada satu sisi gedung di lantai dua, terpasang spanduk besar bertuliskan SPECIAL. SPECIAL merupakan singkatan dari spiritual, passionate, enthusiastic, caring, integrity, adaptive dan leader. Ketujuh hal itu merupakan nilai yang hendak diinternalisasikan pada seluruh anggota keluarga besar SD Kristen 3 YSKI, dalam hal ini siswa, guru dan karyawan. Karakter seseorang terbentuk melalui internalisasi nilai. Setiap nilai itu dijabarkan menjadi beberapa indikator, yang dijadikan patokan perilaku positif yang diharapkan muncul dan untuk merancang kegiatan dalam rangka pencapaian indikator. Misalnya salah satu indikator nilai spiritual adalah rajin berdoa setiap hari, passionate berindikator memiliki keinginan kuat dalam mencapai target, enthusiastic berindikator tidak mudah putus asa, caring berindikator bertindak menolong orang lain, integrity berindikator jujur, adaptive berindikator mampu bekerja sama dalam kelompok, dan leader memiliki salah satu indikator menjadi teladan bagi orang lain.

Nilai SPECIAL ini digagas sekitar lima tahun lalu, melalui diskusi beberapa tahap. Dimulai rapat kerja pimpinan, yang melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, manajer dan staf serta pengurus Yayasan Sekolah Kristen Indonesia atau YSKI. YSKI merupakan sebuah lembaga pendidikan di Semarang yang berpengalaman lebih dari 60 tahun di dunia pendidikan. Yayasan ini memiliki tiga unit Kelompok Bermain dan TK, 3 unit sekolah dasar, satu sekolah menengah pertama dan satu sekolah menengah atas. Tahap berikutnya didiskusikan oleh tim khusus yang melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan staf manajer yayasan. Diskusi terakhir berupa penjabaran indikator-indikator dan strategi pencapaiannya.

Dalam rangka pembentukan karakter civitas akademika SD Kristen 3 YSKI, dilakukan kegiatan yang bersifat rutin dan insidental terprogram. Kegiatan rutin diawali sejak siswa, guru dan karyawan masuk area sekolah. Renungan dan doa pagi dilakukan oleh guru dan karyawan di ruang guru. Setelah itu giliran para murid didampingi wali kelas masing- masing melakukan hal yang sama. Melalui kegiatan pembelajaran, baik di dalam maupun luar kelas, proses pembentukan karakter tetap dijalankan. Hal itu direncanakan betul oleh para guru, tampak pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. Ada hal istimewa dalam rangka internalisasi nilai leader. Siswa-siswi SD Kristen 3 YSKI terbiasa mengikuti kegiatan belajar dengan diskusi, yang diakhiri dengan presentasi. Aktivitas ini sangat mendukung kemampuan kepemimpinan. Selain itu, ada satu aktivitas yang sekaligus diharapkan menginternalisasi dua nilai yaitu spiritual dan caring. Aktivitas tersebut adalah berdoa syafaat. Secara sederhana, doa syafaat artinya berdoa bagi orang lain. Dengan demikian doa syafaat yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru sebagai aktivitas rutin setelah istirahat pertama usai, pukul sembilan, bentuk ungkapan iman dan kepedulian kepada teman-teman di kelas atau bahkan terhadap orang tua siswa di rumah atau terhadap sekolah di mana mereka belajar. Selain aktivitas pembelajaran, program ekstra kurikuler juga menjadi media yang baik untuk terbentuknya karakter SPECIAL. Ekskul akademik misalnya Klub Sain dan Klub Bahasa Inggris. Ekskul non akademik misalnya paduan suara, badminton, sepatu roda dan renang.

Sedangkan kegiatan insidental yang dilakukan misalnya : outbond, kemah PRAMUKA dan retreat. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tema yang mengacu pada nilai-nilai SPECIAL. Misalnya, outbond dengan tema kepemimpinan atau kerja sama, kemah PRAMUKA dengan tema kepedulian, dan retreat dengan tema generasi peka jaman sebagai upaya pencapaian nilai adaptive. Kegiatan lain yang sesuai dengan kalender juga dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai SPECIAL. Misalnya pada bulan Agustus dalam rangka HUT RI; bulan Oktober, dalam rangka bulan bahasa; bulan November dalam rangka hari Pahlawan; Desember, dalam rangka perayaan Natal: April dalam rangka hari Kartini; Mei dalam rangka HUT Kota Semarang, Hardiknas dan Harkitnas dan seterusnya.

Lina, salah satu guru melihat pentingnya penanaman karakter yang perlu dilakukan sejak dini. Dia yakin, kekawatiran orang tua dan guru akan hal-hal buruk seperti narkoba, korupsi, perilaku menyimpang dan lain-lain akan diminimalkan karena nilai-nilai karakter sudah terbentuk. “ Perlu ditingkatkan kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah dalam hal membiasakan diri dalam hal-hal baik. Apa yang diajarkan di sekolah seyogyanya dilakukan atau dilanjutkan di rumah, biar anak ndak bingung” ujarnya.

Benar yang dikatakan Lina. Beberapa ahli mengatakan bahwa dalam membentuk karakter, diperlukan setidaknya empat unsur. Unsur itu adalah, pemberitahuan tentang hal yang baik-buruk dan benar-salah, ganjaran dan hukuman, keteladanan dan konsistensi. Anak memang harus diberi tahu, apa saja yang boleh dan tidak. Apa yang sesuai aturan dan tidak. Hukuman dan ganjaran diberikan kepada anak untuk menegaskan, perbuatan itu salah perbuatan ini benar. Aturan, ganjaran dan hukuman harus konsisten dalam penerapannya agar anak tidak bingung terhadap perilaku yang diharapkan pada diri mereka. Bila tidak konsisten, nilai aturan, hukuman dan hadiah menjadi tidak berarti bagi anak.Konsisten berarti pula apa-apa yang diajarkan di sekolah dilanjutkan di rumah dan sebaliknya. Demikian pula guru satu dengan yang lain perlu punya satu pandangan dan sikap. Keteladanan sangat penting dalam proses pembentukan karakter bagi anak-anak. Masa kanak-kanak adalah masa meniru. Jadi peran orang dewasa sangat penting dalam memberikan teladan. Dalam hal ini, orang tua murid, guru dan juga masyarakat pada umumnya.

“Dahulu, anak saya rada takut-takut. Sekarang sudah berani berbicara di depan umum, di hadapan guru dan teman-temannya. Sekarang ia menjadi pengurus OSIS SMP. Beruntung SD Kristen 3 YSKI dan YSKI memberikan wahana untuk anak saya berkembang karakter kepemimpinannya melalui program pendidikan karakter melalui nilai SPECIAL,”kata Bu Atik, salah seorang tua murid memberikan kesaksiannya.

Program ini bukannya sudah sempurna, masih banyak yang harus dikembangkan dan ditingkatkan. Mekanisme monitoring dan evaluasi konsisten dilakukan, baik oleh manajerial YSKI maupun kepala sekolah serta para guru, tetapi juga oleh masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Meski perlu disempurnakan, tetapi upaya ini tampaknya memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi pembentukan karakter generasi muda di negeri ini.