“POJOK KEPO” SULAP NO WAY JADI OKAY

Tags :
Date :09 Oktober 2017

“POJOK KEPO” SULAP NO WAY JADI OKAY

Oleh : Lisa Setyawati B.

PG-TK Kristen 03 YSKI Semarang

 

Bagi kebanyakan siswa, membaca tak kalah membosankannya jika dibandingdengan menunggu antrean dokter atau menunggu makanan yang dipesan di warung makan yang penuh pengunjung. Membaca dirasakan sebagai suatu beban kewajiban untuk mempelajari materi ulangan ataupun mengerjakan tugas sekolah. Siswa tidak merasakan asyik dan serunya membaca. Begitu ada perintah membaca maka ingatannya akan langsung mengarah ke ulangan dan tugas yang menumpuk. Sungguh membosankan!

Demikian juga dengan kegiatan bercerita atau menyampaikan informasi. Seringkali, informasi dari guru yang seharusnya dapat disampaikan oleh siswa kepada orangtua secara utuh, tidak tersampaikan dengan benar sehingga terjadi misunderstanding dan miscommunication. Juga saat diminta untuk menceritakan sesuatu di depan kelas, kebanyakan siswa cenderung melakukannya dengan terbata-bata  dan sangat singkat, rasa percaya diri hilang, lenyap entah ke mana. Demam panggung, istilah kerennya.

Antusiasme yang berbeda akan terlihat saat siswa diajak menonton tayangan klip atau animasi melalui media elektronik. Klip atau film animasi menjadi menarik karena alur ceritanya jelas dan mudah dimengerti, tampilan warnanya menarik ditambah dengan suara yang dapat membawa penonton ke dalam situasi dan suasana seperti peristiwa dalam klip atau film animasi tersebut.  Antusiasme siswa juga tampak manakala mereka diajak bermain games dengan atau tanpa gadget. Berapapun waktu yang dihabiskan untuk bermain, mereka tak pernah komplain. Enjoy aja!

Sekalipun minat baca anak-anak rendah, pembiasaan kegiatan literasi di sekolah maupun di rumah harus dilakukan karena dapat meningkatkan prestasi dan potensi siswa dalam banyak aspek. Dengan membaca, berbagai informasi dan pengetahuan dapat dipahami, dimengerti dan dijadikan bekal hidup sekarang dan yang akan datang. Para orangtua dan guru tentu tidak ingin jika anak-anak menjadi kudet (kurang update) hanya gara-gara tidak mendapatkan informasi terkini karena malas membaca.

Cinta dan kebiasaan membaca tidak muncul dengan sendirinya. Perlu pembiasaan. Banyak siswa yang belum merasakan membaca sebagai suatu kebutuhan. Perpustakaan sekolah tidak lagi berfungsi sebagai gudang ilmu namun “hanya” sebuah ruangan sejuk penuh buku yang nyaman untuk ngerumpi dengan teman sambil menunggu jemputan. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk menyerap, memahami dan mengolah informasi sehingga mereka mengalami kesulitan saat harus menyampaikan simpulan dari informasi yang diperolehnya.

Mengapa anak-anak Indonesia kurang berminat untuk membaca? Mengapa mereka lebih suka mengobrol atau bermain games atau melamun bahkan tertidur saat menunggu? Apa yang salah? Menurut artikel “Menumbuhkan Budaya Membaca di Kalangan Siswa” yang ditulis oleh Min Hermina (praktisi pendidikan), rendahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah kurangnya ketertarikan pada buku dan rendahnya keinginan membaca. Ini dikarenakan saat berada di usia dini, anak-anak kurang diberi pembiasaan dan stimulus untuk membaca. Faktor eksternal antara lain karena terbatasnya jumlah dan jenis buku yang menarik dan sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka yang tersedia di rumah maupun di sekolah.

Memang membaca bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan akan tetapi diperlukan pembiasaan secara berkesinambungan sejak usia dini. Tidak hanya keteladanan membaca, kreativitas guru dan orangtua berperan penting dalam meningkatkan minat baca anak sesuai dengan jenis kecerdasan dan gaya belajar masing-masing anak. Membuat sesuatu yang unik dengan biaya terjangkau dan dapat dilakukan oleh semua orang menjadi tanggungjawab guru dan orangtua.

Belajar dari pengalaman pribadi ataupun dari sharing dengan orangtua siswa, hal paling sederhana yang dapat dilakukan orangtua untuk membiasakan literasi pada anak-anak salah satunya adalah dengan membacakan cerita secara rutin untuk putra-putrinya sedini mungkin. Memang, mereka belum mampu membaca kata-kata yang tertulis di buku itu, tetapi dengan membacakan cerita yang disertai dengan berbagai gambar dan warna yang menarikdan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melihat gambar, tulisan dan simbol yang ada, ketertarikan anak pada buku dan kemampuan mereka menyerap informasi dan pengetahuan dapat ditingkatkan.

Menurut pengalaman penulis, penulis tak pernah memaksa ananda untuk duduk dan belajar mengeja di masa kecilnya. Sungguh mengejutkan saat si kecil yang saat itu masih duduk di bangku TK A, ketika kami ajak ke luar kota, tiba-tiba ia teriak SOLO dan KOTA. Rupanya ananda sedang membaca papan petunjuk jalan yang bertuliskan SOLO dan KOTA. Lho?? Siapa yang mengajarinya? Selidik punya selidik, ternyata penulis pernah mengajak ananda untuk melihat-lihat peta dan menunjukkan beberapa kota dan menunjukkan namanya kepada ananda. Tanpa disadari, melalui kegiatan tersebut ananda merekam tulisan-tulisan seperti “SOLO”, “KOTA”, dan entah berapa kata lainnya.  Kejutan lain muncul sewaktu ananda duduk di TK B. Setiap pagi, dia ambil koran papinya dan mulai membuka-buka koran itu di teras rumah. Terkadang, dia bertanya kepada siapapun yang ada di dekatnya, “Ini apa?”. Sempat ada tetangga yang lewat depan rumah berkomentar, “Wuih... baca koran, Dik. Apa berita hari ini?” Ternyata kebiasaan membacakan cerita setiap malam secara rutin sebelum ananda tidur dan keteladanan yang diberikan papinya untuk membaca koran membuahkan hasil yang menakjubkan.

Manusia sebagai makhluk Homo Ludens (makhluk bermain) tidak dapat dipisahkan dari dunia bermain. Semua orang, termasuk orang dewasa, suka bermain, terlebih anak-anak usia TK – SD. Karena usia anak-anak TK-SD usia bermain, maka sebaiknya kegiatan belajar mereka dikemas dalam bentuk bermain.

Saat bermain, siswa sering menemukan dan bertanya tentang peristilahan yang belum pernah dikenalnya. Besarnya keingintahuan anak-anak tentang sesuatu telah menginspirasi penulis untuk menciptakan kawasan sumber informasi bagi anak-anak yaitu Pojok Kepo.

 

Mengenal Pojok Kepo

Pojok Kepo berasal dari kata pojok yang berarti sudut dan kepo (dari bahasa slank) yang berarti selalu ingin tahu. Pojok Kepo   adalah tempat siswa bereksplorasi dan mencari informasi tentang banyak hal untuk memuaskan kekepoannya. Tempat ini merupakan ruang bermain yang dilengkapi dengan berbagai informasi yang dikemas dalam bentuk yang sangat menarik, misalnya: kardus susu yang dibungkus menarik dan dilengkapi dengan berbagai macam tulisan dan gambar, sendok kata, pot dari gelas plastik, buku tekstur, donat aksara, botol plastik berisi kata, dan lain sebagainya.  Semua media bermain tersebut diatur dan ditempatkan di Pojok Kepo seolah-olah mengatur buku-buku cerita di perpustakaan.

Tulisan dan gambar yang menempel pada barang atau objek sasaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan dibuat semenarik mungkin untuk memancing rasa ingin tahu dan penasarannya. Rasa penasaran mereka akan mendorongnya untuk memainkannya. Melalui kegiatan bermain di Pojok Kepo, diharapkan pembiasaan membaca di usia dini dapat terlaksana dan muncul dari diri sendiri. Tempat ini sangat cocok untuk anak-anak yang bertype belajar visual dan kinestetik. Pojok Kepo menjadi alternatif untuk membudayakan literasi siswa usia TK – SD.

 

Kegiatan di Pojok Kepo

Bermain di Pojok Kepo menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan di Pojok Kepo antara lain:

  1. Menanam Sendok Kata

Media yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sendok plastik yang dilengkapi dengan tulisan tertentu dan pot dari gelas plastik. Anak-anak membaca kata yang tertulis di sendok plastik, kemudian mencari pot dengan kategori tertentu yang sesuai dan meletakkan sendok di pot tersebut. Melalui kegiatan ini, kemampuan motorik halus dan kecerdasan visual spatial siswa juga akan terasah.

  1. Kardus Info

Media yang digunakan untuk kegiatan ini sangatlah sederhana. Kardus bekas susu yang dibungkus kertas warna menarik dan ditempeli kata atau kalimat sederhana tentang suatu topik serta dilengkapi dengan gambar yang mendukung, pastilah akan disukai anak karena unik.


D:FOTO YSKI TANJUNG 2017P_20170925_204441.jpgD:FOTO YSKI TANJUNG 2017P_20170925_204416.jpgD:FOTO YSKI TANJUNG 2017P_20170925_204455.jpgD:FOTO YSKI TANJUNG 2017P_20170925_204428.jpg

  1. Buku Tekstur

Buku Tekstur juga menjadi alternatif yang menarik bagi siswa. Dibuat dari berbagai media dengan tekstur yang berbeda, seperti kain flanel, kertas daur ulang, kemasan plastik, dan masih banyak lainnya, Buku Tekstur dapat berisi tema atau informasi apapun sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain membaca, siswa dapat bermain dengan bentuk dan tekstur yang ada di dalam Buku Tekstur sambil bermain sensori.


D:FOTO YSKI TANJUNG 2016APEP_20161008_214341.jpgD:FOTO YSKI TANJUNG 2016APEP_20161008_185450.jpg



D:FOTO YSKI TANJUNG 2016APEP_20161008_185304.jpgD:FOTO YSKI TANJUNG 2016APEP_20161008_185247.jpg

  1. Pesan Ajaib

Pesan Ajaib yang dituliskan di berbagai tempat di Pojok Kepo juga merangsang minat baca siswa. Pesan singkat seperti misalnya, “Anak pintar, selesai bermain, bereskan mainannya, ya...”, atau “Ayo, ajak teman-temanmu bermain...”, atau “Hebat, kamu sudah bisa membaca”, yang dituliskan di atas kertas warna-warni akan membuat siswa tertarik untuk membaca tulisan yang ada di dalamnya. Pesan singkat yang dituliskan dapat berisi semangat dan motivasi untuk mereka.

 

Kegiatan Pojok Kepo mendorong siswa untuk mandiri sekaligus belajar bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu siswa juga berlatih bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Pelatihannya dalam bentuk menata dan merapikan kembali alat permainan yang digunakannya.

Kegiatan dan media main di Pojok Kepo dapat diganti atau ditambah secara berkala, misalnya dua minggu sekali agar siswa makin senang bereksplorasi. Buku-buku cerita bergambar dan berwarna tentunya perlu untuk diletakkan di Pojok Kepo agar anak dapat diajak untuk mendengarkan, berdiskusi, bertanya jawab dan menceritakan kembali cerita-cerita tersebut. Jika memungkinkan, siswa dapat diajak mengembangkan atau memodifikasi cerita sesuai imajinasinya. Adapun tingkat kesulitan dari tiap kegiatan dapat disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.

Dengan memberikan rangsangan dan pembiasaan yang unik, menarik dan berkesinambungan, niscaya minat baca siswa akan melejit dengan sendirinya, tanpa orangtua dan guru bersusah-payah memaksa mereka membaca. Semoga bermanfaat!