Value

Value


Pendidikan yang diberikan di sekolah merupakan salah satu sarana penting dalam pembentukan dan pembangunan karakter seseorang. Menyadari akan pentingnya peran sekolah terhadap karakter seseorang maka setiap lembaga pendidikan berkeinginan out put lembaganya memiliki karakter sesuai dengan tujuan pendidikan lembaga tersebut. Tak terkecuali Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI). Melalui visi dan misinya, YSKI bertujuan untuk menjadikan lulusannya memiliki tinggi iman, ilmu dan moral. Visi misi YSKI telah menjadi ketetapan sekaligus norma yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pendidikan di YSKI. Begitu juga pembentukan karakter senantiasa mengacu pada visi terutama pada tataran moral. YSKI meyakini bahwa moralitas tertinggi adalah jika manusia memiliki karakteristik kristiani yang menunjukkan perilaku sesuai dengan buah Roh yaitu perilaku yang didasarkan pada sikap-sikap luhur seperti penuh kasih, senantiasa bersuka cita, dari dalam memancarkan damai sejahtera,  dirinya diliputi kesabaran, ada kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Sikap-sikap luhur yang termuat dalam Galatia 5:22-23 tersebut menjadi landasan kuat pelaksanaan pendidikan karakter di lingkungan YSKI.

Saat ini dunia pendidikan menghadapi berbagai tantangan yaitu adanya pergeseran paradigma pendidikan, penyiapan kompetensi  sumber daya manusia di Abad-21,  program studi teknologi pendidikan/pembelajaran, pengembangan Kurikulum 2013, dan implementasi Kurikulum 2013.

Pendidikan karakter di YSKI dikembangkan dengan cara penanaman nilai-nilai atau value. Penanaman nilai/value ini berlaku untuk setiap individu yang terlibat dalam proses pendidikan yang diselenggarakan di YSKI. Menurut Kluckhohn dalam Mulyana (2013) nilai/value adalah konsepsi (tersurat atau tersirat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang memengaruhi tindakan pilihan terhadap cara, tujuan antar dan tujuan akhir.

Value YSKI adalah konsep penguatan pendidikan karakter bagi siswa, tenaga pendidik dan kependidikan serta orang-orang yang terlibat di dalam penyelenggaraan pendidikan di lingkungan YSKI yang mencirikan pendidikan YSKI sebagai upaya mewujudkan visi sekaligus sebagai instrumen  bagi pelaksanaan misi YSKI. Value YSKI dibuat menggunakan pendekatan scientific yang dimulai dari pengamatan perilaku baik pengamatan perilaku siswa YSKI dari PG hingga SMA maupun perilaku anak sebaya di luar YSKI sebagai pembanding. Dari pengamatan didapatkan hasil bahwa perilaku siswa YSKI terkendali, wajar, dan memenuhi syarat dari segi kepantasan sebagai anak maupun siswa. Namun demikian ada sikap yang perlu dikembangkan agar mereka menjadi manusia yang benar-benar siap menghadapi kehidupan nyata di masyarakat yang salah satunya adalah perlunya memiliki kemampuan menghadapi persaingan dengan tetap mempertahankan jatidiri sebagai anak Tuhan. Dari pengamatan kemudian dicarikan treatment apa yang paling cocok untuk pendidikan karakter YSKI. Berbagai konsep dan pikiran dari tim dijadikan informasi awal untk merumuskan konsep baru  perihal pendidikan karakter YSKI yang khas hingga muncullah konsep SPECIAL yang menyederhanakan tagline YSKI sebelumnya yaitu Special School Makes Special People.

Value YSKI menyasar kepada aspek spiritual Kristen (Spiritual), semangat/gairah berprestasi (Passionate), antusias dalam mengejar cita-cita (Enthuasistic), mau berbagi dengan sesama (Caring), jujur dan berkarakter kuat (Integrity), kemampuan beradaptasi (Adaptive), dan kepemimpinan (Leader). Sasaran sikap itu kemudian disumuskan dalam bentuk kata-kata dengan akronim  SPECIAL. Setiap aspek memiliki empat indikator utama. Dari empat indikator utama dikembangkan lagi menjadi bebeberapa subindikator berupa kalimat operasional. Indikator dan subindikator berupa kalimat operasional tersebut disusun untuk mempermudah pelaksanaan pengembangan karakter melalui kegiatan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. Pelaksanaan pembangunan karakter melalui Value YSKI dilakukan dengan pendekatan pembiasaan di lingkungan sekolah dan di rumah. Di sekolah, pembiasaan dilakukan dalam pembelajaran tidak langsung yaitu guru melakukan pembiasaan-pembiasaan perilaku dan pikir untuk setiap siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Pembiasaan ini bisa berupa cara menyampaikan pesan, cara menanggapai atau memberikan respon atas pesan yang diterima, cara menjaga kenyamanan dan kedamaian, cara menumbuhkan motivasi internal dan menjadikan pengalaman sebagai motivasi eksternal. Membiasakan diri untuk menjadi orang yang memiliki kepedulian, kejujuran, dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan keadaan apapun serta memiliki jiwa kepemimpinan juga menjadi bagian pembiasaan yang pada akhirnya akan membentuk karakter siswa sehingga siswa menjadi anak SPECIAL yang berkepribadian.