Yayasan Sekolah Kristen Indonesia – Great School

Tambahkan Teks Tajuk Anda Di Sini

Di era yang serba cepat, instan, dan penuh tekanan, anak-anak menghadapi tantangan karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang begitu cepat, tugas harus segera selesai, dan pencapaian teman-teman terlihat jelas di media sosial. Akibatnya, banyak anak merasa tertinggal, takut gagal, atau tidak mampu mengimbangi ritme dunia.

Saat perasaan “harus cepat bisa” atau “takut ketinggalan” muncul, godaan mengambil jalan pintas juga ikut menguat: menyontek, memalsukan tugas, meniru karya orang lain, atau tampil “lebih baik” di media sosial. Pemerintah Indonesia, melalui Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila, menekankan pentingnya membentuk pelajar berkarakter, termasuk memiliki akhlak mulia dan integritas. Namun tekanan dunia modern tetap membuat kita perlu bertanya, “Mampukah anak-anak tetap memegang integritas di tengah dunia yang bergerak begitu cepat?”

 

Integritas: Fondasi Karakter yang Mudah Terkikis di Era Instan

Integritas berasal dari kata Latin integer, yang berarti utuh—selaras antara pikiran, perkataan, dan tindakan. Menurut Thomas Lickona, karakter yang kuat adalah kombinasi dari:

  • moral knowing (mengetahui yang baik),
  • moral feeling (mencintai yang baik),
  • moral action (melakukan yang baik).

Koesoema Doni juga menegaskan bahwa integritas adalah fondasi karakter; seseorang tetap melakukan yang benar meski tidak diawasi. Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi menuntun budi pekerti agar anak menjadi manusia seutuhnya.

Namun kini, nilai-nilai ini terus diuji. Ketika dunia menuntut kecepatan, anak sering merasa perlu memotong proses agar “tidak kalah”. Dalam situasi seperti ini, integritas bukan hanya sebuah nilai — tetapi ketahanan moral.

 

Menanamkan Integritas Sejak Kecil — Dengan Cara yang Tidak Tergesa-gesa

Integritas tidak tumbuh dalam semalam, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten. Di tengah dunia yang terburu-buru, peran keluarga menjadi sangat penting untuk memperlambat langkah dan memberikan ruang bagi anak mempelajari nilai-nilai yang benar.

Beberapa langkah yang sederhana tetapi sangat efektif:

  1. Mengajarkan kejujuran sejak dini

Anak perlu dibiasakan berkata apa adanya, mengakui kesalahan, dan bertanggung jawab.

  1. Menepati janji — bahkan yang kecil

Ketika orang tua menepati janji, anak belajar bahwa kepercayaan itu nyata.

  1. Menghargai proses, bukan hanya hasil

Berhenti bertanya “dapat nilai berapa?”, mulailah bertanya “apa yang kamu pelajari?”.

  1. Memberikan tanggung jawab yang sesuai usia

Membereskan mainan, mengurus barang pribadi, menyelesaikan tugas sehari-hari.

Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar.
Ketika orang tua hidup jujur, tekun, dan konsisten, integritas itu menular secara alami.

 

Peran Sekolah: Keteladanan Guru Adalah Kurikulum Terkuat

Menurut Dr. Otib Satibi, kehadiran teknologi tanpa pendampingan dapat mengikis nilai-nilai luhur, termasuk integritas. Karena itu, sekolah memegang peran strategis sebagai lingkungan kedua anak. Di YSKI, pendidikan bukan hanya akademik, tetapi perpaduan antara iman, ilmu, dan moral. Guru bukan hanya pengajar, tetapi teladan hidup yang dilihat siswa setiap hari.

Sekolah dapat menumbuhkan integritas melalui:

  1. Keteladanan guru

Integritas tidak bisa diajarkan hanya lewat teori — harus ditunjukkan melalui sikap dan perilaku.

  1. Pembelajaran yang menanamkan nilai kejujuran

Misalnya menolak plagiarisme, menghargai karya sendiri, dan mengajak siswa refleksi diri.

  1. Budaya sekolah yang menekankan proses

Tidak hanya fokus pada nilai, tetapi juga usaha dan konsistensi.

Ketika sekolah dan keluarga bekerja bersama, integritas menjadi pola hidup, bukan slogan semata.

 

Anak Tetap Bisa Berintegritas di Era Serba Cepat

Meski hidup di era serba cepat dan penuh tekanan, anak-anak tetap memiliki potensi besar untuk menjaga integritas. Mereka bukan generasi yang kehilangan nilai, tetapi generasi yang membutuhkan penuntun yang tepat. Ketika keluarga memberi teladan yang konsisten, sekolah membangun budaya kejujuran, dan lingkungan digital diarahkan dengan bijak, anak justru dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, jujur, dan bertanggung jawab. Integritas bukanlah hasil instan, melainkan perjalanan panjang yang dimulai sejak kecil melalui teladan, bimbingan, dan pembiasaan yang konsisten.

Di tengah dunia yang serbainstan, anak-anak akan mampu menunjukkan bahwa karakter tidak harus dikorbankan demi kecepatan—justru integritas dapat menjadi kompas yang menuntun mereka menghadapi perubahan zaman.

Sebagai pengingat bagi kita semua, firman Tuhan berkata dalam Amsal 10:9 (TB),”“Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya akan diketahui.” Kiranya anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya cerdas, tetapi bertanggung jawab dan penuh integritas.

 

Referensi

 

Hidayat, O. (2020). Pendidikan Karakter Anak (Sesuai Pembelajaran Abad ke-21). Jakarta:Edura-UNJ
Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

Koesoema, A. D. (2017). Pendidikan Karakter di Zaman Milenial. Grasindo.