Yayasan Sekolah Kristen Indonesia – Great School

ANAK CEPAT MENYERAH SEBELUM MENCOBA: KARENA KITA TERLALU CEPAT MEMBANTU?

“Anak adalah kehidupan.
Mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu, tetapi bukan milikmu.
Curahkan kasih sayang, tetapi jangan memaksakan pikiranmu,
sebab mereka dikaruniai pikiran mereka sendiri.”

— Kahlil Gibran

 

Puisi ini mengingatkan orang tua tentang hakikat kehadiran anak: mereka hadir melalui kita, namun memiliki dunia, pikiran, dan prosesnya sendiri. Lalu pertanyaannya, kasih sayang seperti apakah yang benar-benar membantu perkembangan mereka?

Apakah saat anak menghadapi masalah, orang tua segera berkata, “Tenang, Nak, Ayah dan Ibu akan selalu menyelesaikan semuanya untukmu?”Ataukah, “Mari, Nak, kita hadapi bersama,” lalu orang tua ikut mengerjakan sebagian besar tugas itu? Atau justru, “Coba selesaikan dulu. Kalau kamu kesulitan, kamu boleh datang kepada Ayah atau Ibu.”

Tiga pendekatan ini menunjukkan cara yang sangat berbeda dalam memberi bantuan. Sayangnya, banyak orang tua terlalu cepat turun tangan, sehingga anak kehilangan kesempatan untuk berproses.

 

  • Generasi Minim Ketahanan

Kita hidup di zaman serba cepat dan serba mudah. Banyak orang tua tidak tega melihat anak mengalami kesulitan seperti yang mereka alami di masa kecil. Ditambah revolusi digital yang membuat segala sesuatu instan, muncul generasi yang rentan terhadap tekanan hidup—sering disebut “generasi strawberry”: tampak baik-baik saja di luar, tetapi mudah rapuh saat menghadapi masalah. Akibatnya, banyak anak:

    • tidak tahan menghadapi kegagalan,
    • cepat menyerah ketika hasil tidak sesuai harapan,
    • mudah frustrasi,
    • bergantung pada bantuan orang lain.

Kondisi ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Lingkungan yang terlalu mempermudah dan melindungi justru membuat mereka kurang pengalaman menghadapi tantangan. Orang tua dan guru, tanpa disadari, ikut membentuk fenomena ini.

 

  • Gaya Parenting Pemicu Ketidakmandirian

Salah satu pola pengasuhan yang banyak disorot adalah rescue parenting, yaitu gaya asuh ketika orang tua selalu menjadi “penyelamat” anak agar ia tidak gagal, tidak sedih, dan tidak mengalami kesulitan.

Niatnya baik, tetapi dampaknya justru merugikan. Anak yang sering “dibantu sebelum mencoba” akan:

    1. Minim pengalaman menghadapi kesulitan. Karena jarang diberi kesempatan berusaha sendiri, anak akan bingung ketika harus menghadapi masalah.
    2. Takut gagal. Jika orang dewasa selalu memperbaiki tugasnya, anak khawatir hasil usahanya tidak cukup bagus.
    3. Cenderung menunggu bantuan. Motivasi intrinsik terganggu karena anak terbiasa diselamatkan.
    4. Kurang percaya diri. Lingkungan yang terlalu protektif membuat anak merasa dirinya “tidak mampu”.

Fenomena anak berkata, “Aku nggak bisa,” bahkan sebelum mencoba, menjadi semakin sering terlihat.

 

  • Cara Bijaksana Memberi Bantuan

Menurut Pramudianto dalam Mom and Dad as Super Coaches, peran parenting mencakup tiga tujuan utama:

    1. Kemitraan – hubungan setara yang membantu anak mencapai tujuan, bukan mengambil alih.
    2. Memberdayakan pikiran anak – melalui dialog dan pertanyaan pemandu yang menumbuhkan kesadaran.
    3. Relasi yang kuat – yang memotivasi anak bertindak dan mengoptimalkan potensinya.

Memberi bantuan bukanlah kesalahan. Yang keliru adalah mengambil alih proses belajar anak. Bantuan yang tepat justru menumbuhkan kemandirian.

Beberapa cara bijaksana membantu anak:

    1. Beri kesempatan mencoba terlebih dahulu. Orang tua turun tangan hanya bila anak benar-benar buntu.
    2. Berikan petunjuk atau clue, bukan jawaban.
    3. Gunakan pertanyaan pemandu, misalnya, “Menurutmu langkah pertama apa?”
    4. Hargai proses, bukan hanya hasil. Puji usaha, ketekunan, dan strategi yang digunakan anak.
    5. Saat gagal, ajak refleksi. “Apa yang bisa kamu lakukan berbeda lain kali?”
    6. Berikan tugas yang sedikit menantang. Keberhasilan kecil meningkatkan rasa percaya diri.
    7. Gunakan teori scaffolding. Bantuan diberikan bertahap sesuai kebutuhan, lalu dikurangi perlahan seiring berkembangnya kemampuan anak.

Dengan pola ini, anak tetap didukung, tetapi tidak dimanjakan.

 

  • Kemandirian Tidak Datang Tiba-Tiba

Kemandirian adalah hasil dari proses panjang—dari diberi kesempatan mencoba, menghadapi sedikit kesulitan, hingga mampu membuat keputusan sendiri. Karena itu, orang tua tidak dianjurkan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya dapat anak lakukan.

Menurut Templar (2006:54), kemandirian mencakup dua aspek:

    • kemampuan melakukan tugas sendiri, dan
    • kemampuan berpikir serta mengambil keputusan mandiri.

Proses ini berkembang sesuai usia, kemampuan kognitif, dan kesiapan fisik anak. Tugas orang tua dan guru adalah menyediakan kesempatan bertahap yang sesuai usia, misalnya:

    • anak memakai sepatu sendiri,
    • menata tas sekolah,
    • mengatur barang pribadi,
    • menyelesaikan masalah kecil sebelum meminta bantuan.

Setiap kesempatan kecil untuk berusaha melatih anak mengatur diri, menghadapi frustrasi, dan bertanggung jawab. Dari situlah kemandirian sejati tumbuh.

 

  • Penutup

Kemandirian dan ketahanan mental sangat penting bagi anak-anak generasi sekarang. Dunia semakin kompleks, tantangan semakin besar, dan mereka membutuhkan fondasi kuat untuk menghadapinya. Karena itu, dibutuhkan keberanian orang tua dan guru untuk:

    • tidak langsung membantu,
    • tidak mengambil alih tugas anak,
    • memberi kesempatan anak berproses,
    • tetap siap mendampingi ketika benar-benar diperlukan.

Seperti pesan Kahlil Gibran, tugas kita bukan menyodorkan pikiran orang dewasa ke dunia anak, tetapi membimbing mereka agar mampu berdiri teguh dengan pikiran dan kekuatan mereka sendiri. Selamat menumbuhkan anak yang mandiri, tahan banting, dan siap menghadapi masa depan dengan penuh keberanian.

 

Daftar pustaka

 

Pramudianto. 2015. Mam And Dad as Super Coaches Metode Coaching dalam Dunia Parenting & Pendidikan. Yogyakarta : Penerbit Andi

Templar, Richard.2006. The Rules of Parenting. Jakarta: Esensi.

Welayana, Anitalia Stefany. 2024. Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha Memahami Karakter & Kepribadian Sekaligus Pola Asuh Anak Didik agar Siap Menghadapi Tantangan Zaman. Jakata: Aroska Publisher

https://www.haibunda.com/parenting/20230614071540-62-307735/mengenal-rescue-parenting-gaya-didikan-yang-disebut-bisa-membahayakan-anak diakses tanggal 8 November 2025