Yayasan Sekolah Kristen Indonesia – Great School

MASA DEPAN ANAK BUKAN HANYA PROFESI, NAMUN JUGA PANGGILAN

PENDAHULUAN

                 “Kamu itu sukses jika kamu menjadi seperti yang Papa dan Mama inginkan”.

            “Kamu itu bisa sukses jika kamu sebagai seorang dokter”.

            “Sekolah yang tinggi, biar nanti punya pekerjaan yang enak, mapan, kantoran”.

            “Mau jadi apa kamu main musik terus menerus, pergi ngga jelas!”

            Tanpa kita sadari, ternyata kita berada dalam belenggu pemikiran kuno bahwa kesuksesan ditentukan dari profesi yang dimiliki oleh anak-anak kita. Dahulu kala orang menganggap bahwa seorang pekerja kantoran dengan baju rapi dan berdasi adalah seseorang yang sukses. Atau seseorang menganggap bahwa menjadi dokter, polisi, atau tentara merupakan seorang yang sukses. Namun kita tidak pernah berpikir bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh profesi yang kita geluti, namun kesuksesan bisa kita tentukan melalui kebahagiaan kita menjalani profesi tersebut.

            Coba kita bayangkan bagaimana jika seorang anak menuruti kemauan orang tuanya untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Namun di lain sisi, anak tersebut selalu merasa tidak nyaman, gelisah dan terhambat oleh profesi tersebut. Bukan kebahagiaan yang ia dapatkan, melainkan tekanan yang terus menerus ia rasakan sehingga membuat anak tidak berkembang ketika menjalani sebuah profesi. Ketika seseorang menjalani profesinya dengan penuh tekanan maka ia tidak akan menjalani dengan sukacita, namun menjalani dengan setengah hati dan keterpaksaan.

        Ada seorang anak yang suka dengan musik. Sejak kecil ketertarikannya terhadap musik sangatlah tinggi, bahkan ia rela menyisihkan beberapa uang yang ia dapatkan demi membeli alat musik yang ia sukai. Namun sayangnya, orang tuanya hanya memandang bahwa profesi sebagai mMusisi bukanlah profesi yang baik dan tidak ada masa depannya. Orang tuanya melarang anak tersebut untuk hidup di dunia musik dan mengarahkannya menjadi seorang akuntan. Kemudian anak tersebut hanya bisa frustasi terhadap tuntutan dari orang tuanya yang memintanya untuk meninggalkan musik.

           Lalu bagaimana peran orang tua untuk menunjukkan kepada anak-anak mereka tentang bagaimana mendapatkan masa depan atau profesi dengan minat dan bakat yang mereka ingin geluti? Profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan khusus serta dilandasi dengan komitmen moral dan tanggung jawab sosial. Dari pengertian tersebut orang tua hendaknya memahami bahwa profesi bisa didapatkan dengan keahlian khusus. Jika seseorang tidak ahli di suatu bidang, maka hal tersebut bukanlah sebuah profesi yang baik. Orang tua yang hanya fokus kepada pekerjaan yang “dianggap” layak hanya akan memenjarakan anaknya dalam belenggu kemalasan, sakit hati, kemurungan, bahkan bisa menimbulkan stress. Maka dari itu  kita perlu menolong anak menemukan “panggilannya sesuai dengan apa yang mereka minati. Tujuannya supaya ketika anak menjelajah dunia masa depannya, ia menemukan profesi yang cocok dengannya.

TEMUKAN PANGGILANKU

                 Sebelum membahas lebih jauh tentang bagaimana menemukan profesi anak yang sesuai dengan minat bakatnya, hendaknya kita memperhatikan satu nats yang terdapat dalam Efesus 2:10, yang berbunyi demikian : “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Dari ayat tersebut, dikaitkan dengan keberadaan anak-anak kita, harusnya bisa dipahami bahwa kehadiran anak-anak Tuhan di tengah-tengah dunia merupakan rancangan baik Allah agar manusia melakukan pekerjaan baik yang telah disedikan oleh Allah. Jadi menurut  ayat tersebut, setiap orang memiliki panggilan yang unik, tetapi semua panggilan bermuara pada satu tujuan mempermuliakan Tuhan dan memperluas kerajaan-Nya.

              Orang tua hendaknya mengetahui dan menyadari bahwa setiap anak memiliki bakat dan ketrampilannya masing-masing. Dilansir dari Sweetycare.com, dikatakan bahwa “anak sebenarnya sudah merasakan kesukaan-kesukaan mereka yang bisa menjadi calon bakat atau masa depan mereka. Jadi ketika orang tua akan mengarahkan anaknya menuju masa depan hendaknya memikirkan bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh anak, supaya anak-anak menemukan panggilannya sesuai dengan bakat yang dimiliki. Ketika menemukan profesi yang digeluti, ia juga perlu dibantu menemukan makna, tujuan, serta kepuasan hidup yang sejati. Profesi bukan sekadar tentang mendapatkan penghasilan atau status sosial, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa berkarya, memberi dampak positif, dan menggunakan bakat yang Tuhan percayakan untuk melayani sesama.

      Dengan demikian, orang tua tidak lagi menekan anak untuk mengikuti profesi yang “dipandang bergengsi”, melainkan mendorong mereka agar tekun mengembangkan potensi diri yang sudah Tuhan taruh dalam hidupnya. Profesi yang sesuai dengan panggilan akan membuat anak bertumbuh dengan penuh sukacita, menghadapi tantangan dengan ketekunan, serta merasakan kebahagiaan yang sejati karena ia berjalan pada jalur yang Tuhan kehendaki.

              Akhirnya, tugas orang tua adalah menjadi pendamping, bukan penentu. Orang tua adalah sahabat perjalanan anak dalam menemukan panggilannya, bukan hakim yang memutuskan masa depannya. Ketika orang tua mau mendukung, mendoakan, dan mengarahkan anak pada panggilannya, maka anak akan menemukan arti kesuksesan yang sejati—yaitu menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, penuh makna, dan membawa berkat bagi banyak orang.

            Dalam menemukan panggilan anak-anak kita, beberapa hal berikut yang harus dilakukan oleh orang tua :

  1. Memperkenalkan anak pada Tuhan

          Memperkenalkan anak pada Tuhan merupakan sebuah hal fundamental atau mendasar orang tua ingin menemukan panggilan bagi anak. Serahkan kepada Tuhan segala sesuatu tentang anak dan masa depannya, ajaklah selalu anak-anak untuk berdoa dan bersaat teduh setiap hari. Hal ini secara tidak langsung akan membentuk karakter anak untuk mengandalkan Tuhan terus menerus. Anak-anak menjadi terbiasa dengan menyertakan Tuhan dalam setiap tindakan yang dilakukan olehnya.

  1. Menemukan kesukaan anak sejak kecil

             Panggilan masa depan bagi anak bukan hanya ditentukan saat ia dewasa, namun ketika ia masih kecil. Orang tua harus melihat secara jeli hal-hal apa yang anak mereka sukai. Misalkan anak suka menggambar atau melukis, maka orang tua harus mengarahkannya menjadi seorang seniman. Atau anak lebih banyak berbicara dan mengajak bercakap-cakap, maka orang tua bisa mengarahkan anaknya ke sekolah bahasa, agar semakin terasah kemampuan berbahasanya.

  1. Berkomunikasi secara berkala

     Seringkali ketika anak beranjak dewasa, orang tua melewatkan waktu mereka untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Membangun sebuah komunikasi kepada anak bukanlah hal yang sulit “jika” saja dilakukan sejak kecil hingga anak menjadi seorang yang dewasa. Orang tua bisa mengetahui apa yang dimaui oleh anak ketika ia berkomunikasi. Salah satu contoh, ketika anak sudah mulai beranjak remaja, maka ia akan mengenal lawan jenis yang ia sukai, maka orang tua bisa hadir menjadi teman curhat bagi anak-anaknya.

      Maka ketika orang tua dengan intens mengajak anak-anaknya berkomunikasi, ia akan mengerti apa kesukaan dan hobi anak tersebut, sehingga menjadikan sebuah bekal untuk menolongnya memenuhi panggilan masa depan. Orang tua bisa memberikan beberapa saran kepada anak ketika akan menentukan tempat belajar yang ia inginkan. Ingatkan pula kepada anak  bahwa profesi apapun yang ia pilih, tujuan tertingginya adalah untuk memuliakan Tuhan dan membawa berkat bagi orang lain.

KESIMPULAN

             Kesuksesan sejatinya bukan ditentukan oleh profesi yang tampak hebat di mata manusia, melainkan ketika anak-anak kita hidup sesuai dengan panggilan Tuhan, menemukan sukacita, dan memberi dampak bagi sesama. Tugas orang tua adalah mendampingi, mendukung, dan mendoakan, bukan memaksakan kehendak atau menghakimi. Selamat menjadi orang tua yang bijak, peka, dan setia menolong anak menemukan panggilan hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA