Yayasan Sekolah Kristen Indonesia – Great School

Membentuk Mindset Finansial Sehat Sejak Dini

Di tengah dunia yang semakin konsumtif, anak-anak tumbuh dengan berbagai godaan: mainan baru, gawai, jajanan, hingga tren yang terus berganti. Tanpa disadari, cara anak memandang uang akan sangat memengaruhi sikap dan keputusannya di masa depan. Oleh karena itu, orang tua memegang peran penting dalam membentuk mindset finansial yang sehat sejak dini, bukan semata-mata agar anak pandai mencari uang, tetapi agar anak bijak mengelolanya sebagai bentuk tanggung jawab dan berkat dari Tuhan.

 

Uang Bukan Sekadar Alat, tetapi Sarana Belajar Nilai Hidup

Bagi anak, uang sering kali hanya dipahami sebagai alat untuk membeli sesuatu yang diinginkan. Di sinilah orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa uang adalah hasil dari usaha, waktu, dan tanggung jawab. Ketika anak mulai memahami bahwa uang tidak datang dengan sendirinya, ia akan belajar menghargai proses dan tidak mudah menghambur-hamburkan apa yang dimiliki.

Orang tua dapat memulai dengan hal sederhana, misalnya menjelaskan bahwa uang diperoleh dari bekerja, dan setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan dengan bijak. Percakapan ringan sehari-hari justru menjadi sarana efektif untuk membangun pemahaman ini.

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu fondasi penting dalam literasi finansial adalah kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Anak perlu belajar bahwa tidak semua hal yang diinginkan harus dimiliki saat itu juga. Kebutuhan adalah hal yang harus dipenuhi untuk hidup dan belajar dengan baik, sedangkan keinginan bersifat tambahan.

Orang tua dapat melibatkan anak saat berbelanja dengan bertanya, “Menurutmu, ini termasuk kebutuhan atau keinginan?” Pertanyaan sederhana ini membantu anak belajar berpikir kritis, menunda kepuasan, serta memahami skala prioritas. Kemampuan ini kelak akan sangat berguna ketika anak harus mengambil keputusan finansial yang lebih besar di masa depan.

Menabung sebagai Kebiasaan, Bukan Paksaan

Menabung bukan tentang jumlah uang, melainkan tentang konsistensi dan kebiasaan. Anak tidak perlu dipaksa menabung dalam jumlah besar. Justru dengan nominal kecil yang dilakukan secara rutin, anak belajar disiplin dan kesabaran.

Celengan, tabungan anak, atau bahkan amplop khusus bisa menjadi media belajar yang menyenangkan. Orang tua juga dapat mengajak anak menetapkan tujuan menabung, misalnya untuk membeli buku, alat gambar, atau berbagi dengan sesama. Dengan demikian, anak memahami bahwa menabung memiliki tujuan yang bermakna, bukan sekadar menyimpan uang.

 

 

Uang sebagai Berkat dan Sarana Berbuat Baik

Dalam keluarga beriman, penting untuk menanamkan pemahaman bahwa uang adalah berkat Tuhan yang dipercayakan kepada manusia. Karena itu, uang tidak hanya digunakan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membantu orang lain dan memuliakan Tuhan.

Mengajak anak berbagi, memberi persembahan, atau menolong sesama sejak dini akan membentuk hati yang bersyukur dan tidak melekat pada materi. Anak belajar bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dimiliki, melainkan bagaimana uang digunakan untuk kebaikan.

Keteladanan Orang Tua adalah Kunci Utama

Tidak ada pengajaran yang lebih kuat daripada teladan. Anak akan meniru cara orang tua mengelola keuangan, bersikap terhadap uang, dan mengambil keputusan. Ketika orang tua hidup sederhana, bijak, dan bertanggung jawab, anak pun akan belajar melakukan hal yang sama. Membentuk mindset finansial sehat bukan proses instan, tetapi perjalanan panjang yang dimulai dari rumah. Dengan pendampingan yang penuh kesadaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak, bertanggung jawab, dan mampu mengelola berkat Tuhan dengan baik.