Parenting Class : Growth Mindset, Kunci Sukses Masa Depan
Yayasan Sekolah Kristen Indonesia kembali menyelenggarakan kegiatan Parenting dengan tema “Growth Mindset: Kunci Sukses Masa Depan”. Kegiatan ini diikuti oleh para orang tua siswa dan bertujuan membekali keluarga dengan pemahaman pola pikir yang tepat untuk mendukung perkembangan anak di era yang penuh tantangan. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Drs. Thomas Indradjaja, MM dan Veronika Mayangsari, S.Psi., M.Si., yang menyampaikan materi saling melengkapi antara pemahaman konsep dan penerapan praktis dalam pola asuh.
Growth Mindset vs Fixed Mindset
Dalam pemaparannya, Drs. Thomas Indradjaja, MM menjelaskan bahwa mindset merupakan sekumpulan keyakinan dan cara berpikir yang memengaruhi perasaan, perilaku, serta pengambilan keputusan seseorang dalam menghadapi berbagai situasi hidup. Beliau membedakan secara jelas antara growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat berkembang melalui usaha, proses belajar, serta ketekunan. Anak dengan pola pikir ini memandang kesalahan sebagai bagian alami dari pembelajaran dan tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Sebaliknya, fixed mindset memandang kecerdasan dan kemampuan sebagai sesuatu yang tetap dan terbatas. Anak dengan pola pikir ini cenderung takut mencoba hal baru, mudah menyerah, serta menganggap kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan diri.
Selanjutnya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan anak di masa depan tidak semata ditentukan oleh bakat atau kecerdasan bawaan, melainkan oleh ketekunan (GRIT), keberanian menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus belajar. Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dan lingkungan dalam membentuk pola pikir bertumbuh sejak dini.
Peran Orang Tua Menumbuhkan Growth Mindset Anak
Veronika Mayangsari, S.Psi., M.Si. memaparkan berbagai tips praktis bagi orang tua untuk menumbuhkan growth mindset dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa growth mindset anak tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan dibentuk oleh orang tua, guru, lingkungan sekolah, teman sebaya, serta pengaruh media sosial
Beberapa strategi yang disampaikan antara lain:
• Fokus pada proses dan strategi, bukan bakat bawaan, dengan memberi apresiasi pada usaha anak.
• Menggunakan kata “belum” untuk menggantikan label kegagalan, sehingga anak melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa berkembang.
• Menjadi teladan growth mindset, dengan menunjukkan bahwa orang tua juga terus belajar, berani mengakui kesalahan, dan mau memperbaiki diri.
• Menghentikan kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman, dan menggantinya dengan fokus pada progres pribadi anak.
• Menerapkan konsep “self driving”, yaitu menguatkan anak agar memiliki inisiatif, tanggung jawab, disiplin, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan mengelola hidupnya sendiri.
Beliau juga menekankan pentingnya hubungan emosional yang sehat dalam keluarga sebagai fondasi terbentuknya pola pikir bertumbuh, terutama di tengah tantangan kesehatan mental anak dan remaja saat ini.
Respon Positif Orang Tua
Kegiatan parenting ini mendapatkan respon positif dari para orang tua. Banyak peserta menyampaikan bahwa materi yang diberikan membuka wawasan baru mengenai cara memandang kegagalan dan proses belajar anak. Salah satu orang tua peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini membantu dirinya menyadari pentingnya mengubah pola pikir orang tua terlebih dahulu sebelum menuntut perubahan pada anak. Orang tua lainnya mengungkapkan bahwa tips-tips yang dibagikan terasa relevan dan aplikatif untuk diterapkan di rumah.
Melalui kegiatan parenting ini, YSKI berharap terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara sekolah dan orang tua dalam membangun generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menyambut kesuksesan masa depan dengan growth mindset.